Common Rail System

Konsep dari CRS ini hampir mirip dengan teknologi MPI (Multi Point Injection) pada mesin bensin Mitsubishi, yaitu semua kerja sistim dilakukan secara kontrol elektronik (mikro komputer) untuk mendapatkan daya kerja mesin yang optimal. Untuk mudahnya pernahkah membaca artikel "Our Body is Like Machine"? Ya, seperti itulah mesin bekerja, laksana tubuh kita yang memiliki panca indra yang mengirimkan berbagai pesan ke otak kemudian diolah menjadi perintah untuk menggerakkan anggota tubuh lainnya.

Begitupun dengan CRS ini yang memiliki banyak indra dan dikenal dengan istilah sensor-sensor. Sensor ini akan mendeteksi semua aktivitas mesin dan kendaraan. Kemudian sensor-sensor tersebut memberikan sinyal masukan informasi ke ECU (Engine Control Unit) sebagai pusat pengendalian sistem. Yang pada akhirnya ECU ini akan memerintahkan semua actuator untuk dapat bekerja dengan optimal, seperti injector (nozzle) yang akan menyemprotkan solar dengan jumlah yang tepat dan waktunya pun tepat.

Ada 3 alasan utama mengapa mesin diesel sekarang menggunakan teknologi CRS, yaitu:

  1. Untuk menghasilkan emisi gas buang yang bersih (standar emissi Euro 2, dan seterusnya)
  2. Menurunkan Noise (kebisingan) atau getaran mesin
  3. Kinerja mesin menjadi lebih tinggi dan bahan bakar menjadi lebih ekonomis

Untuk menghasilkan kerja seperti yang disebutkan diatas, maka CRS ini dibangun dengan teknologi mekanikal dan elektronik. Dibawah ini adalah komponen utama mekanikal dari CRS yang terkait dengan aliran bahan bakar solar, yaitu:

  1. Supply Pump, sebagai pengganti injection pump konvensional yang mampu menghasilkan tekanan yang sangat tinggi hingga mencapai 180 Mega Pascal (1800 Kg/cm²)
  2. Injector yang mampu menyemprotkan solar bertekanan tinggi tadi ke dalam ruang bakar mesin sehingga menghasilkan atomisasi solar yang lebih sempurna. Selain bekerja dengan tekanan yang sangat tinggi, injector pun bekerja secara kontrol elektronik yang dilakukan oleh ECU setelah menerima sinyal dari berbagai sensor. Besarnya tegangan kerja pada injector ini bisa mencapai 85V dengan kecepatan waktu penyemprotan sekitar 1.1 mili detik. Kerja CRS ini dilengkapi dengan sistim peringatan yang dikontrol secara elektronik, yaitu adanya lampu peringatan mesin yang akan menyala bila terjadi permasalahan pada sistim tersebut. Dan segala penyebab masalah dapat diketahui dengan menggunakan alat pendeteksi kerusakan yang tersedia di bengkel Mitsubishi, yang dikenal dengan MUT-II (Multi Use Tester).

Bila terjadi kerusakan pada komponen utama CRS seperti injector, supply pump maupun ECUnya maka komponen tersebut harus diganti dan dilakukan proses "Pembelajaran" (Learning). Proses ini tidak dapat dilakukan sendiri oleh CRS melainkan harus dilakukan oleh teknisi Mitsubishi yang sudah terlatih dengan menggunakan peralatan khusus yaitu MUT-III. Proses "Pembelajaran" berlangsung kurang lebih tiga menit, hal ini dimaksudkan agar sinyal listrik dari seluruh sensor dan actuator serta ECU menjadi sinkron sehingga kerja keseluruhan pada CRS ini menjadi normal kembali.

Untuk menjaga kerja mesin tetap optiomal, beberapa hal harus diperhatikan antara lain:

  1. Pemakaian bahan bakar solar yang bersih. Karena clearance atau celah pada supply pump dan injector sangat kecil sekali, sehingga bila ada kotoran yang masuk bisa menyebabkan komponen tersebut tersumbat dan mesin menjadi kurang tenaganya bahkan tidak bisa hidup
  2. Pemasangan aksesoris listrik, jangan sampai mengganggu kerja kelistrikan CRS dan lainnya.
  3. Lakukan perawatan berkala sesuai buku petunjuk service di Dealer Mitsubishi.

Sumber: Majalah Evolution Edisi 6 (April - Juni 2012) Halaman 16